Senin, 16 Juli 2012

SEMUANYA UNTUK SAHABAT


Aku adalah seorang lelaki yang tercatat di SMA ini sebagai siswa yang patut diteladani oleh siswa lainnya. Hal itu pasti karena aku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh siswa lainnya. Mungkin karena prestasi menonjol dan kedisiplinanku yang tinggi. Tetapi bis dilihat dari interaksi sosialnya, aku tak ubahnya seperti sebuah robot yang hanya diprogram untuk mengenal angka – angka dan huruf saja. Hampir semester dua tiba, seluruh buku – buku perpustakaan sekolahku telah habis kulalap dan aku tak ubahnya seekor kutu buku yang selalu ada di sela – sela  buku yang tersusun itu. Tetapi selama tenggat waktu tersebut tak seorang pun dari kawan sekelasku yang kutahu secara mendetail tentang dirinya seprti nama ayanhya, nama ibunya, dimana rumahnya, apa makanan kesukaannya meskipun aku sering ke kantin, dan entahlah masih banyak lagi yang tak kutahu. Apalagi kelas lain, nama siswanya saja belum aku kenal. Ini memang sebuah hal yang aneh dalam kehidupanku di sekolah dan aku yakin tak semua orang di sekolahku bisa seperti ini. Mereka yak bakalan tahan dalam kondisi seperti ini dan semua itu terjadi karena salahku sendiri. Kealahanku adalah tak pernah peduli dengan merekan dan saat ini mereka pasti beranggapan kalau aku tak membutuhkan kepedulian mereka. Lama – lama aku tenggelam sendiri bersama bayanganku di antara ratusan orang yang tak kukenal.
Yah, aku merasa berada pada sekumpulan orang – orang asing seperti halnya orang buangan. Aku merasa terbuang ke pulau inggris, merasa terasing di sana yang apabila ditanya tahunya Cuma yes – no, yes – no saja. Yah itulah cerminan kehidupanku di sekolah menengah  atas ini, tak lebih dari orang buangan. Aku dibuang oleh orang tuaku, dan kemudian berteman dengan segudang buku, buku dan buku dan yang bertindak sebagai pengawas guru hingga aku harus patuh padanya dan hanya bisa bicara banyak, memprotes ini, itu hanya kepadanya. Aku merasa terasing di antara siswa SMA ini, aku tak pernah peduli seberapa banyak siswa di SMA ini, seberapa banyak di kelasku, di kelas ini, di kelas itu…
Yang aku tahu bahwa hari inikelasku kedatangan siswa baru lagi. Seperti biasa bapak wali kelasku akan datang dengan muka yang penuh keseraman untuk mengantar dan memperkenalkan siswa baru itu. Ya, sebenarnya setiap ia masuk ke kelasku suasana kelas menjadi aman. Ia seolah – olah hantu yang ditakuti oleh semua orang. Ia memang gaklak tapi ia guru tauladan, kelas binaannya selalu menjadi juara pertama lomba 8 K di sekolahini, dan kedisiplinannya minta ampun. Setiap siswa apalagi anak walinya tidak boleh terlambat, baju harus selalu di dalam. Pokoknya dia dibenci oleh sebagian siswa di sekolah init tetapi bagiku itu tak masalah.
“anak – anak, hari ini kita kedatangan siswa baru lagi” ucap wali kelasku memecah keheningan kelas
“silahkan Alya perkenalkan dirimu”
“Te-terima kasih pak”ucap Alya gugup
Aku tersentak mendengar kegugupannya dan seketika ku tatap matanya tapi nyalanya begitu redup, tak ada keceriaan. Mungkin dia pemurung ? dari raut wajahnya yang kusut dan kegugupan itu aku tahu.
“perkenalkan, nama saya …A…Alya Anggini Lestari”
“Dan saya pindah ke sini karena ikut orang tua..”
Aku terbenam kembali pada buku yang ada di hadapanku, aku tak perlu mendengar secara detil tentang dirinya. Hanya keributan kawan sekelasku yang silih berganti bertanya tentang dirinya dan aku hanya perlu sebuah nama dan itu sudah cukup bagiku.
******
Hari itu aku ke sekolah agak lebih pagi, karena ada piket. Kalau boleh jujur aku memang tidak pernah terlambay. Itu sih, karena aku memang tidak memilih – milih angkot yang akan memberangkatkanku ke sekolah. Beda dengan kebanyakan siswa lain yang mau naik angkot apabila angkot itu barulah, tidak penyotlah, tidak bau ikan atau apalah. Tetapi akibat keselektifannya itulah membuatnya menjadi pelanggan tetap untuk membersihkan WC di sekolahku. Tapi anehnya selalu saja ada yang terlambat setiap hari.
Aku tertegun di depan kelasku sendiri saat kulihat Alya telah hamper menyelesaikan piketnya bersamaku, yah tinggal menyiram bunga. Aku tak habis piker ternyata masih ada yang lebih pantas dariku jadi siswa tauladan di sekolah ini dalam hal kedisiplinan tentunya. Padahal kebanyakan siswa baru ataupun siswa asli belum tentu bisa begitu. Mungkin karena keselektifannya itu yang membuat wali kelasku makin galak kalau kelas binaannya belum bersih saat bel masuk berbunyi. Telah mbesar enjadi tugas rutin baginya untuk memeriksa luar dan dalam kelas, dan aku piker mungkin dalam keadaan seperti ini kegalakannya akan berkurang. Hufh..huh…aku lega, tapi belum sempat aku masuk ke kelasku untuk menaruh tas lebih dulu. Tiba – tiba “PRAKK” mengagetkanku, aku segera menoleh kea rah sumber suara dan kulihat sebuah pot besar berisi bunga terkini yang telah pecah berantakan. Oh.. tidak, itu pot kesayangan bapak ! Tanpa pikir panjang aku cepat – cepat membantu Alya membereskan pec ahan pot tersebut dan kulihat wajahnya berubah menjadi pucat. Gawat…pasti keadaannya berbalik dari apa yang aku pikirkan tadi, pasti bapak wali kelasku akan marah besar. Aku tahu dengan pecahnya sebuah pot sudah tentu akan mengurangi nilai keindahan kelasku, apalagi ini hari sabtu dan waktunya ibu penilai kebersihan berjalan – jalan. Pasti predikat terbaik 8K akan jatuh ke tangan kelas lain dan itu kali pertamanya akan terjadi pada kelasku. Aku tak bisa membayangkan kemarahan bapak wali kelasku….
Aku mulai menenangkan Alya yang mulai panic dan gugup. Wajahnya semakin pucat, bibirnya bergerak tak karuan entah apa yang ingin dia ucapkan. Segera kuambil alih tugasnya sebelum semuanya tambah gawat.
“maaf teman. Sebaiknya kamu masuk kelas saja biar aku yang menyelesaikan ini” hiburku
Aku segera bergegas mengambil timba dan kusiram bunga – bunga itu. Kenapa yah ? tiba – tiba pot itu jatuh dan kenapa Alya Cuma diam saja, gugup dan ketakutan gitu ? aneh…
Bel masuk berbunyi. Semua siswa duduk terdiam, membisu. Semua tahu bahwa jam pertama adalah biologi, mata pelajaran bapak wali kelasku. Tap, tap, tap suara derap sepatu yang kemudian berhenti di depan pintu kelas, itu pasti bapak wali kelas, gumamku. Ternyata benar, ia kemudian mengeluarkan pandangannya ke halaman kelas. Kulihat sekilas ia tersenyum, namun ketika pandangannya tertuju pada deretan pot bunga di teras kelas, wajahnya tiba – tiba keruh. Dia pun masuk tanpa sebuah sapaan salam, tetapi…
“kemana pot besar berisikan buga terkini itu ?” katanya marah. Suaranya menggelegar bagai petir di sian bolong. Sekali lagi semua membisu, dan semua mata tertuju pada Alya yang duduk di deretan paling depan. Dia kelihatan gugup dan bibirnya bergerak tak karuan lagi.
“Ayo jawab!! Kemana pot itu ???” PRAAKK, suara jeritan meja yang tak berdosa kena pukul bapak wali kelasku yang marahnya telah mencapai batas kemarahannya. Entah apa yang terlintas di benakku, tiba –tiba aku mengangkat tanganku.
“Ada apa Reza ?”
“maaf pak, sebenarnya pot bunga kesayangan bapak…pecah pak !”
“kenapa bisa pecah ?”
“sayala yang memecahkannya pak.” Entah kenapa keberanianku itu tiba – tiba muncul, aku melirik ke arah Alya, dan tersenyum padanya. Ia pun tersenyum juga walau agak kaku dan terkesan dipaksakan.
Aku telah mencoba menjelaskan kepada Bapak wali kelasku bahwa aku memecahkan pot kesayangannya itu dengan tidak sengaja. Namun, ia tidak percaya dan dengan kebijaksanaannya itu aku harus mengganti pot itu dan aku harus menghadapnya di kantor. Waktu satu jam pelajaran dihabiskan olehnya untuk menyerocos segala kebobrokan kami. Mulai dari kebersihan, kedisiplinan, tingkah laku semuanya meluncur bagi mitraliyur menghantam kepala murid – muridnya termasuk aku. Aku merasa bosan dengan semua yang dicapkannya paling tidak 2 kali seminggu kudengar.ketika bel pergantian pelajaran berbunyi ia pun mengakhiri ceramahnya dengan “ ingat minggu depan ulangan praktimum tentang “ struktur sel tubuhan”. Kalian buat kelompok, 2 orang per kelompok dan bahan – bahannya ada di halaman 17 !” tutupnya seraya keluar dengan tergesa – gesa.
Aku segera memenuhi panggilannya dan hasilnya aku mendapatkan poin pelanggaran sebanyak 20. Tapi, syukurlah aku tidak diskorsing…
******
Siswa – siswa kelas X.2 telah siap di ruangan lab.Biologi, termasuk aku. Hari itu ad ulangan praktikum tetapi Alya belum datang juga, padahal ia adalah teman kelompokku. Aku mulai gelisah, sesekali kutengok kea rah pintu namun Alya tak muncul – muncul juga. Waduh, bisa gawat deh…ulangannya sebentar lagi muali !!
“sekarang keluarkan bahan –bahan praktikum yang kalian bawa dan mulailah membuat irisan melintang dan membujur pada bawang merah dan daun – daun itu, hati – hati jangan sampai sobek !” perintah bapak guru. Sekilas ia kemudian mengedarkan pandangannya dan kali ini tertuju padaku.
“Mana teman kelompokmu, Reza ?”
“A..anu pak, dia belum..!” tok, tok, tok, ucapanku belum selesai kala Alya berdiri di ambang pintu, ia pun masuk denagn kepal menunduk agak takut.
“kenapa kamu terlambat ? apa kamu tidak tahu kalau hari ini ulanga ? dan berkali – kali bapak bilang kalau bapak tidak mau ada siswa yang telambay pada saat jam pelajaran bapak apalagi itu anak wali bapak” bentak bapak wali kelas yang membuat seisi kelas tertegun, menahan napas. Kulihat bibir Alya bergerak tak karuan, entah apa yang akan diucapkan.
“sudahlah pak, sebaiknya ulangannya dimuali saja lagi pula teman kelompokku telah datang” ucapku membujuk.
“iya, silakan duduk. Lain kali jangan telambat lagi”akhirnya kemarahan bapak reda juga. Yah, untunglah dia tidak dihukum berdiri ddi depan kelas. Aku tak bisa membayangkan hukuman teman perempuanku dulu waktu dia terlambat. Ia disuruh berdiri di depan kelas dan berjanji seperti ini “ teman – teman, hari ini saya terlamabat. Besok tidak mi’ lagi ” sampai seratus kali. Sulit kubayangkan bila hal ini terjadi pada Alya…
Bapak kemudian menjelaskan prosedur - prosedur pelaksanaan praktikum. Dan kulihat Alya hanya duduk termenung dengan tatapan kosong. Kulihat ada kesedihan dari raut wajahnya yang muram. Aku harus cari tahu mengapa kesehariannya semenjak pindah ke sini selalu murung, pendiam, penyendiri di perpustakaan sekolah. Kenapa sih, aku harus cari tahu itu. Apa karena aku merasa kasihan padanya atau keterasinganku telah berkurang semenjsk kedatngannya.entahlah…
“sekarang, setiap kelompok mengambil sediaan dan mikroskop di ruang peralatan. Hati – hati jangan sampai ada yang pecah. Ulangan segera dimulai ” aku terkaget, aku segera menuju ruang peralatan di susul oleh Alya dan teman lainnya.
“kamu ambil mikroskop di lemari sana biar aku yang bawa peralatan lainnya ! ” perintahku pada Alya. Alya hanya mengangguk, ia kemudian berjalan dengan tak bersemangat kea rah lemari itu dan kemudian membukanya. Ketika Alya mengangkat mikroskop itu dari kardusnya tiba – tiba seekor tikus melompat ke arahnya dan “ Ahh…PRAAKK !” suara jeritan danpecahnya mikroskop berhamburan di lantai berbaur menjadi satu yang membuat Bapak guru segera masuk ke ruang peralatan.
“ada apa ini, kenapa kamu memecahkan mikroskop itu ? Bapak kan bilang hati – hati. Sudah terlambat bikin kesalahn lagi. Cepat bereskan itu dan nanti menghadap bapak di kantor ! ” keluar dengan wajah yang masam.
         Ketika kulihat bibir Alya bergerak tak karuan, aku merasa iba. Segera kuambil sapu dan kubereskan pecahan mikroskop itu. Kulihat matanya berkaca – kaca tapi aku yak mampu menghiburnya saat itu…
       Saat jam istirahat, seperti biasa aku ke perpustakaan. Ketka aku masuk ke perpustakaan itu, kulihat Alya sedang menelungkupkan wajahnya di atas sebuah meja. Kuhampiri ia, tahulah aku ia sedang menangis. Ketiak ia mengetahui kedatanganku cepat – cepat dihapusnya air matanya yang muali meleleh, dan…
“kamu nangis ya ? ”kataku seraya menarik kursi kemudian duduk di hadapannya.
“ah, nggak kok !”
“tapi, matamu sembab. Apakah kamu ada masalah ? atau mungkin karena kejadian tadi. Ceritalah ” pintaku
          Ia kemudian menceritakan masalahnya dan aku menjadi pendengar setia. Ternyata selama ini, Alya selalu terbayang keadaan ayahnya yang menderita penyakit ginjal.
“ya, ayahku seharusnya dioperasi transplantasi ginjal, tapi saat ini belum ada donornya. Saya merasa khawatir dengan keadaan ayah saya. Saya tak mau kehilangan ayah saya setelah kehilangan ibu untuk selamanya, tetapi kapan ayah saya akan sembuh ? ”
          Tak terasa air mataku turut meleleh, baru kali ini aku menangis seorang teman perempuanku. Aku tak bisa menahan air mataku, kini aku tahu kenapa semua peristiwa buruk menimpanya di sekolah, selalu murung dan tak terfokus ke mata pelajaran. Haruskah aku    menolongnya ???
         Aku terus berpikir ?? aku harus menolong Alya. Ayahnya adalah satu – satunya harapan buat dirinya. Aku ingin melihat dia tersenyum. Hingga pada suatu malam, di rumahku…
“Petta, ma’ bisakah aku menolong seorang temanku ?”
“ya, itu bagus. Mau menolong apa sama temanmu ?”
          Aku pun kemudian menceritakan semua tentang Alya, kehidupannya di sekolah sampai pada keinginanku untuk mendonorkan sebeleh ginjalku untuk ayah Alya.
“apakah kamu telah mempertimbangkannnya baik – baik ?”
“sudah petta’ ”
         Keesokan harinya, keinginanku untuk menolong Alya kuutarakan padanya. Aku tak menyangka ia begitu gembira. Ia tak seperti dulu lagi, pemurung, pendiam dan penyendiri. Dia bahkan memelukku erat dan tak hentinya mengucapkan terima kasih. Air matanya meleleh tanda bahagia, oh Tuhan… inikah sahabat yang selama ini aku cari. Tiba – tiba merasa mendapatkan surat pembebasan dari kungkungan keterasinganku selama ini. Aku tak ingin kehilangannya…
******
         Kini aku terbaring lemah di atas ranjang pada ruang operasi. Operasi transplantasi ginjal berjalan dengan lancar dan aku butuh istirahat untuk memulihkan kesehatanku, begitu penjelasan dokter. Mulai saat itu aku harus terbiasa hidup dengan satu ginjal, aku tak boleh melakukan pekerjaan berat lagi. Tapi aku merasa senag dan kulihat wajah Alya yang berdiri di sampingku berseri – seri, dia begitu bahagia.
       Seminggu telah berlalu. Aku telah diperbolehkan kembali untuk ke sekolah. Aku merasa senag melihat Alya tak cemberut, pemurung lagi. Aku semakin akrab dengannya. Aku tak seperti dulu lagi. Walaupun hanya dengan satu teman (sahabat)  tetapi ia selalu ada buatkusaat sedih, saat gemnira, saat menangis dan aku pun selalu berbagi dengannya saat suka maupun duka. Hingga pada suatu hari…
“kamu lihat Alya tidak ?” kataku pagi itu pada Marsono teman sebangkukku.
“kayaknya dia belum datang, mungkun terlambat, kali !”
        Heran, 5 menit lagi bel masuk berbunyi. Tapi kok Alya belu datang juga. Dia tak mungkin terlambat karena ia selalu datng lebih awal dariku. Tapi kalau dia sakit, biasanya dia telepon atau sms aku tapi kali ini tidak. Kenapa yah ? aku mulai bertanya – tanya. Hingga satu jam berlalu, Alya belum juga datang. Dan ketika pelajaran kedua biologi telah berlangsung 15 menit, tiba – tiba, tok, tok, tok. Semua pandangan tertuju kea rah pintu yang terkuak lebar dan kulihat Alya berdiri di sana tapi tidak dengan seragam putih abu – abu lagi. Dia berjalan masuk dengan wajah yang murung sama seperti ketka ia pertama kali masuk ke sekolah ini. Tapi saat ini aku tak bisa berbuat apa – apa dan…
“Teman – teman ! mulai saat ini, saya tidak bersekolah lagi di sini. Saya harus ikut ayah saya, karena dia dipindah tugaskan lagi. Jadi, jika selama ini saya pernah berbuat kesalahan pada Bapak wali kelas dan teman – teman sekalian, maafkanlah !  ”
        Kulihat kali itu mata Alya sembab. Aku tak perlu bertanya, mengapa kamu menangis ? sama ketika di perpustakaan waktu dulu. Tapi, apakah aku sanggup melepaskan seorang sahabat yang selama ini telah mengubur rasa keterasinganku, mewarnai hari – hariku di sekolah dengan keceriaan, keriangan dan selalu menjadi tempat curahan hatiku ? aku tak sanggup !! tapi haruskah aku mengecewakannya dengan keputusanku ini ? tidak, aku tak mau dia kecewa hanya karena egoku. Perasaan itu berkecamuk di dadaku, aku tak tahu harus berbuat apa. Dan ketika Alya melangkahkan kakinya untuk pergi dari sekolah ini, kulihat keterasingan membayang di hadapanku. Entah apa salahku, aku terbuang ke pulau yang tak berpenghuni. Kukejar Alya yang telah berada di koridor kelasku dan…
“Al..! ” Alya pun berbalik.sejenak ku tatap bola matanya dan barulah saat ini kurasakan betapa aku ingin selalu bersamanya.
“apakah kamu benar – benar ingin pergi !”
“ya..dan aku hanya bisa memberimu ini ”
        Dia menyodorkan sebuah surat bersampul biru itu ke tanganku. Air mataku mulai meleh dan tak kuasa untuk tidak memeluknya. Ingin aku katakana aku tak mau kepergiannya. Tapi kata – kata itu tersekat pada tenggorokanku. Dan di ujung koridor itulah makna sebuah persahabatan. Hari itu aku tidak mood untuk belajar.aku terbayang masa indahnya persahabatan dan aku ingin cepat – cepat pulang guna membaca surat ini…
******
        Sepulang sekolah aku menutup rapat mentup rapat pintu kamarku. Tanpa kulepas seragamku, aku melompat ke tempat tidur dan cepat – cepat membuak sampul surat dari Alya. Dan….
Dear Reza,
         Aku tahu kamu apsti bersedih. Tapi aku tak mungkin mengecewakan yah yang satu – satunya harapn hidupku. Dan bagaiman membalas budi baikmu selama ini, aku tak tahu. Aku telah menganggapmu seorang sahabat sejati yang takkan mungkin kulupakan selamanya. Kau adalah sahabatku yang suatu saat akn bertemu denganku. Dan kamu bisa menghubungi aku lagi kok. Nomor Hp-ku tetap yang dulu. Sudahlah yak usah bersedih lagi, sambutlah hari – harimu dengan keceriaan sama seperti aku masih sesekolahan denganmu. Meskipun sekarang aku harus pergi. Kamu tahu kan arti pepatah ini “ dimana ada pertemuan di situ ada perpisahan”
        Sekian dulu yah surat dariku. Lain kali ku hubungi lagi.
Sahabatmu
Alya
        Aku terhenyak sendiri di atas tempat tidurku. Surat ini telah berkali – kali aku baca namun aku tak bisa memahami dari keseluruhan isinya. Aku terus terbayangi antara kepergiannya yang membuatku terasing lagi dengan indahnya persahabatan yang selama ini membuatku tersenyum. Hingga aku lelah dan terlelap sendiri dan bertemu alya di alam mimpi. Suara azan maghrib membangunkanku, seperti dalam sebuah perjalanan panjang dan harus berakhir di sini. Aku tahu bahwa aku telah lupa shalat dhuhur dan aku tersadar bahwa aku terasing lagi. Tiada lagi. Aku sendiri……….




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar